Hidup Sehat di Masa Pandemi, Apa yang Harus Dilakukan?

Palintefada, JAKARTA – Pandemi Covid-19 memang masih berlangsung, namun angka kematian yang disebabkan virus ini kini kian mengalami penurunan.

Saat ini, beberapa wilayah di Indonesia bahkan telah melakukan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Ini tentunya menjadi sinyal bagi banyak orang untuk mempersiapkan diri hidup berdampingan dengan Covid-19 dan kembali beraktivitas seperti sebelum masa pandemi, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Lalu apa saja yang bisa diterapkan dalam menjaga kesehatan tubuh selama hidup berdampingan dengan Covid-19 ini?

1. Jaga kebugaran tubuh

Hidup Sehat di Masa Pandemi

Membiarkan tubuh untuk banyak berdiam diri dan tidak banyak melakukan aktivitas selama menjalani momen kerja dari rumah atau Work From Home (WFH), tentu saja dapat menghambat metabolisme tubuh.

Tubuh pun akan terasa kurang bugar, terlebih pola hidup yang selama ini diterapkan pun tidak sehat. Saat di rumah, aktivitas dalam mengkonsumsi makanan pun cenderung menjadi lebih sering, karena didukung kemudahan akses layanan pesan antar makanan secara online.

Namun hal ini justru dapat menimbulkan sederet dampak buruk, mulai dari berat badan semakin bertambah yang memicu obesitas, kehilangan massa otot, hingga melemahnya jantung dan paru-paru.

Kondisi seperti ini tentunya akan membuat tubuh merasa lebih cepat lelah, sehingga berdampak pada terhambatnya aktivitas dan mobilitas, produktivitas pun dapat berkurang. Dikutip dari laman American College of Sports Medicine (ACMS), Selasa (23/11/2021), berolahraga bisa menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh.

Terkait hal ini, sebenarnya disarankan untuk berolahraga minimum 30 menit setiap harinya. Olahraga yang dipilih pun bisa disebut tergolong kategori ringan, karena kebugaran tubuh dapat diperoleh hanya dengan melakukan aktivitas seperti jalan cepat, jogging, atau gabungan dari keduanya.

Nah, jika tubuh telah kembali bugar, maka aktivitas apapun yang dijalani tentunya akan terasa ringan dan mudah untuk dilakukan.

2. Kurangi risiko ‘skindemi’

Aturan PPKM memang telah dilonggarkan, namun penerapan protokol kesehatan pun harus terus dilakukan, satu diantaranya dengan selalu memakai masker.

Perlu diketahui, pandemi Covid-19 kini turut menciptakan istilah ‘skindemi’, yakni masalah kulit yang muncul karena kebiasaan yang dilakukan selama pandemi.

Dikutip dari laman Alodokter, dr. Kevin Adrian mengatakan skindemi tercipta akibat pemakaian masker yang terlalu lama, sehingga menyebabkan kulit menjadi kusam, kemerahan, gatal dan mudah berjerawat.

“Penggunaan masker dalam waktu yang lama membuat kulit wajah terus bergesekan dengan masker, gesekan ini yang memicu iritasi kulit. Selain itu menghela nafas dan berbicara saat menggunakan masker juga akan menjebak hawa panas yang membuat kulit wajah menjadi lembab,” kata dr. Kevin.

Kondisi skindemi ini bahkan dapat semakin parah jika dialami oleh seorang perokok. Karena aktivitas merokok yang ‘membuka dan menutup masker’ berulang kali, akan membuat hawa panas hasil pembakaran rokok ‘terjebak’ di area yang tertutup masker.

Akibatnya, pori-pori akan mudah tersumbat sehingga bakteri dan kuman dapat secara mudah berkembang biak. Oleh karena itu, menghentikan kebiasaan merokok tentu dapat menjadi pilihan utama untuk mencegah terjadinya sederet hal buruk tersebut.

Namun, jika anda merasa sulit menghentikan kebiasaan mengkonsumsi rokok, maka produk tembakau alternatif bisa menjadi solusinya. Hal itu karena banyak produk tembakau alternatif yang kini dapat dikonsumsi tanpa pembakaran, seperti kantung tembakau, kantung nikotin, bahkan produk tembakau yang dipanaskan.

Sejumlah riset bahkan menyebut risiko dari produk tembakau alternatif, terutama produk tembakau tanpa asap (smokeless tobacco) bahkan dapat mengurangi risiko dari konsumsi rokok hingga mencapai 99 persen.

Dikutip dari laman ABC News, Peneliti di University of Michigan School of Public Health, Ken Warner pun menyebut produk tembakau alternatif bisa menjadi sarana untuk menghentikan kebiasaan merokok, karena merupakan produk yang memiliki risiko jauh lebih rendah.

“Produk tembakau tanpa asap tidak diragukan lagi, memiliki resiko yang jauh lebih kecil dibandingkan rokok. Produk-produk ini mungkin dapat membantu perokok untuk bisa berhenti merokok,” kata Warner.

Demi mengoptimalkan langkah pencegahan terjadinya skindemi, pastikan anda juga selalu menggunakan masker yang bersih, dan secara berkala mengganti masker jika aktivitas yang dijalani sangat padat.

Sehingga anda pun tidak perlu khawatir skindemi akan muncul pada wajah anda.

3. Jaga kesehatan mulut

Hidup Sehat di Masa Pandemi

Salah satu faktor yang membuat kesehatan mulut tidak terjaga adalah dengan munculnya bau mulut. Munculnya bau mulut ini dapat disebabkan berbagai hal, mulai dari tidak rajin menggosok gigi hingga kebiasaan merokok.

Bagi para perokok, produk tembakau alternatif sebenarnya bisa menjadi solusi agar terhindar dari bau mulut. Perlu diketahui, sejumlah residu hasil dari pembakaran rokok dianggap sebagai pemicu terciptanya kondisi bau mulut dan sejumlah penyakit oral lainnya.

Sedangkan produk-produk tembakau alternatif, tidak melalui proses pembakaran dan tanpa menghasilkan residu. Satu diantaranya terdapat produk tembakau yang dipanaskan dan menghantarkan nikotin dengan memanaskan tembakau pada alat berteknologi khusus.

Oleh karena itu, konsumsi produk tembakau yang dipanaskan diklaim memiliki risiko lebih rendah hingga 95 persen jika dibandingkan rokok. Di masa pandemi ini, mayoritas masyarakat kini tidak hanya concern dalam menjaga kesehatan tubuhnya saja.

Namun mereka juga mulai concern pada kesehatan kulit wajah hingga kesehatan mulut yang sebenarnya dapat berdampak pula pada pencegahan penyakit di organ penting tubuhnya. Ingat, menjaga kesehatan seluruh anggota tubuh dapat membuat anda terhindar dari penyakit, termasuk Covid-19′

4 Jenis Busana Ini Jadi Tren Fashion di Indonesia Selama Pandemi

Jakarta – Pandemi Corona membuat masyarakat lebih banyak berkegiatan di rumah saja. Berubahnya kegiatan masyarakat ini pun membuat tren fashion berubah. Produsen pakaian harus mengatur siasat agar produk mereka tetap dibeli selama pandemi.

“Pandemi ini memaksa kita mengevaluasi kembali segala sesuatunya. Apalagi pengeluaran dan kebutuhan semuanya berbeda. Perubahan pola pikir tersebut membuat kami berpikir tersebut,” ujar pendiri modest wear Kami Istafiana Candarini, Nadya Karina disela-sela virtual launching Monogram Scarf, Jumat (1/10/2021).

Nadya dan pendiri Kami lainnya yaitu Afina Candarini dan Istafiana Candarini, mengungkapkan apa saja tren modest wear selama pandemi yang mereka coba terapkan seiring berubahnya gaya hidup pembeli.

1. Tren Lounge Wear

Tren Fashion Busana Selama Pandemi Di Indonesia

Menurut Nadya, wanita cenderung suka memakai pakaian home wear atau lounge wear, baju-baju rumah selama pandemi. Akan lounge wear yang dikenakan lebih uplifting atau membangkitkan semangat bukan yang terlalu bergaya rumahan. Tren lounge wear ini termasuk salah satu yang muncul di awal pandemi 2020.

2. Tren Sport Wear Selama Pandemi

Selama 2021 mulai lagi tren modest wear bertambah menjadi baju olahraga. Body suit atau baju-baju yang nyaman untuk olahraga itu juga diminati dan dipakai sehari-hari. Menurut Nadya dan Afina, terkadang wanita memakai baju olahraga sebagai atasan dan bawahannya memakai celana yang casual.

3. Tren Monochromatic

Tren Fashion Busana Selama Pandemi Di Indonesia

Karena pandemi umumnya wanita memilih untuk mengenakan busana yang simpel. Setelah sport wear, trenn selama pandemi berikutnya adalah monochromatic atau penggunaan warna dengan tone yang sama.

4. Tren Warna Colorful

Nadya mengatakan jika setelah tahun pandemi lounge wear menjadi favorit, kini busana warna vibrant dan cerah mulai banyak disukai wanita Tanah Air. Hal itu terjadi karena para konsumen fashion sudah merasakan mengenakan monochromatic dan ingin lebih ingin memakai busana yang berbeda dari biasanya.