Mengenal Apa itu Latah, Penyakit atau Sebuah Kebiasaan?

Mengenal Apa itu Latah, Penyakit atau Sebuah Kebiasaan?

Jumping frenchmen of maine atau latah adalah perilaku yang ditandai bersama reaksi spontan sementara tengah terkejut, seperti mencontoh kalimat yang diucapkan orang lain atau lakukan gerakan tertentu. Dalam dunia medis, latah adalah suasana yang terhitung sindrom neuropsikiatrik, yaitu masalah emosi, perilaku, dan kejiwaan yang disebabkan oleh masalah saraf.

Simak pembahasan lebih lanjut tentang type latah, penyebab, dan cara mengatasinya melalui artikel rs stroke bukit tinggi di bawah ini.

Apa itu Latah?

Jumping frenchmen of maine atau latah adalah reaksi spontan dan terlalu berlebih yang berjalan disaat seseorang dikejutkan oleh hal tertentu, seperti mendengar nada keras atau memperoleh sentuhan tak terduga. Reaksi terperanjat berikut bisa berupa ulangi kalimat yang diucapkan orang lain, mengucapkan kalimat kasar atau vulgar, ataupun lakukan suatu gerakan.

Kondisi ini tergolong normal sekiranya berjalan pada anak-anak berusia di bawah 3 tahun karena diakui jadi anggota berasal dari sistem studi berbicara. Namun, kecuali latah berlanjut sampai anak berusia lebih berasal dari 3 tahun, hal berikut mesti langsung memperoleh penanganan yang tepat.

Meski mengundang gejala yang mirip, latah adalah suasana yang berbeda bersama sindrom Tourette. Pada dasarnya, sindrom Tourette ditandai oleh ucapan atau gerakan berulang (tic) yang berjalan secara tiba-tiba tanpa terpecahkan dan tanpa dipicu oleh hal tertentu. Sementara itu, latah biasanya berjalan disaat terkandung hal-hal yang membawa dampak penderitanya terkejut.

Penyebab Latah

Belum diketahui secara tentu apa penyebab berasal dari latah. Namun, sejumlah suasana yang dianggap bisa membawa dampak seseorang mengalami latah adalah sebagai berikut:

  • Anak-anak yang baru studi berbicara. Namun, latah akibat suasana ini tergolong normal dan bisa hilang bersama sendirinya seiring bersama meningkatnya kemampuan anak di dalam berbahasa.
  • Budaya. Masyarakat Melayu, seperti penduduk Indonesia dan Malaysia, dianggap lebih berisiko mengalami latah karena segi budaya.
  • Kondisi psikologis. Seseorang yang jadi dikucilkan oleh penduduk condong mengembangkan mekanisme pertahanan bersama latah sebagai usaha untuk menarik perhatian.
  • Autisme.
  • Sindrom Asperger.
  • Afasia.
  • Penyakit Parkinson.
  • Demensia.
  • Cedera kepala.
  • Epilepsi.
  • Stroke.
  • Radang otak atau ensefalitis.
  • Skizofrenia.

Gejala Latah

Berdasarkan gejalanya, latah bisa dibedakan jadi empat jenis, yaitu coprolalia, echopraxia, echolalia, dan automatic obedience. Berikut masing-masing penjelasannya.

1. Coprolalia

Coprolalia adalah reaksi spontan yang membawa dampak penderitanya mengucapkan kalimat tabu atau vulgar sementara tengah terkejut. Jenis latah ini sering kali disertai bersama teriakan atau nada yang meledak-ledak.

2. Echopraxia

Echopraxia merupakan type latah yang ditandai bersama reaksi mencontoh gerakan orang lain secara tidak sengaja. Latah type ini sering berjalan pada penderita skizofrenia, demensia, dan katatonia.

3. Echolalia

Echolalia adalah type latah berupa pengulangan nada ataupun kalimat yang diucapkan oleh orang lain. Echolalia sering kali dialami oleh penderita autisme pada jaman kanak-kanak yang berpotensi untuk berlanjut sampai dewasa.

4. Automatic Obedience

Automatic obedience atau forced obedience merupakan reaksi spontan yang membawa dampak seseorang lakukan gerakan yang diperintahkan oleh orang lain.

Komplikasi Latah

Latah yang tidak ditangani bersama tepat dan langsung bisa turunkan kualitas hidup penderitanya serta mengganggu kegiatan sehari-hari, seperti:

  • Penurunan produktivitas ataupun prestasi.
  • Menutup diri dan enggan bersosialisasi bersama orang lain.
  • Stres dan depresi.
  • Rentan mengalami bullying.

Diagnosis Latah

Penegakkan diagnosis latah bisa dilaksanakan melalui wawancara medis (anamnesis) bersama pasien untuk mengerti keluhan dan riwayat kesehatannya. Dokter terhitung bisa lakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terhitung pemeriksaan saraf dan kejiwaan, untuk menyaksikan gejala latah.

Lalu, untuk mengonfirmasi penyebab latah, terkandung lebih dari satu pemeriksaan penunjang yang umum dilakukan, yaitu:

  • Tes kemampuan berbahasa dan berbicara.
  • Electroencephalogram (EEG) untuk mendeteksi masalah kegiatan listrik otak yang bisa memicu
  • terjadinya latah.
  • Pemindaian otak, seperti CT scan atau MRI untuk mendeteksi cedera atau tumor pada otak.

Cara Menghilangkan Latah

Latah adalah suasana yang berkaitan bersama suasana psikis dan perilaku seseorang. Maka berasal dari itu, untuk menghilangkan latah, penderitanya bisa lakukan psikoterapi secara rutin. Adapun lebih dari satu type terapi yang umum dilaksanakan untuk menangani latah adalah sebagai berikut:

  • Terapi wicara: Terapi ini punya tujuan untuk melatih pengidap latah type echolalia agar bisa mengucapkan kalimat atau kalimat yang mereka hiraukan bersama baik dan benar.
  • Cognitive Behaviour Therapy (CBT): Terapi yang dilaksanakan bersama menopang membuat perubahan cara berpikir seseorang untuk kurangi normalitas latah.
  • Hypnotherapy: Terapi ini dilaksanakan bersama memasuki alam bawah mengerti pasien untuk mengimbuhkan sugesti tertentu agar bisa menopang sistem penyembuhan.
  • Konsumsi obat-obatan: Apabila latah disebabkan oleh masalah kecemasan, dokter terhitung bisa meresepkan obat antidepresan untuk menangani suasana tersebut. Selain itu, dokter bisa mengimbuhkan obat antiepilepsi kecuali latah dipicu oleh epilepsi.

Cara Mencegah Latah

Sebagai usaha menahan latah pada anak-anak, orang tua direkomendasikan untuk mengajari si kecil untuk berbahasa dan berkomunikasi dua arah secara rutin. Sementara itu, pada orang dewasa, lebih dari satu cara yang bisa dilaksanakan untuk kurangi risiko terjadinya latah adalah:

  • Menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin untuk menghindari risiko terjadinya stroke.
  • Menjaga kebersihan diri agar terhindar berasal dari risiko infeksi meningitis dan radang otak.
  • Mengobati suasana medis yang diderita sebaik mungkin.
  • Menggunakan alat pelindung diri sementara berkendara ataupun bekerja di lapangan untuk menghindari
  • cedera kepala.
  • Mematuhi rambu-rambu lantas lintas sementara berkendara.
  • Menjalani pengobatan bersama rutin cocok panduan dokter kecuali mengidap penyakit skizofrenia atau
  • epilepsi