Petani Kediri menemukan peluru tajam

pemenemuan yang tidak disengaja ini, berawal ketika siti, bersama suaminya, menggali tonggak pohon sengon yang sudah ditebang, di kebun milik syamsul, untuk dipergunakan kayu bakar.

Sesaat cangkul siti mulai menggali tanah, terbentur dengan benda keras. Begitu digali ternyata sebuah peti yang sudah lapuk dan berisi peluru tajam.

Penemuan itu langsung dilaporkan ke polsek puncu, dan oleh polisi langsung dibawa ke mapolres kediri. Karena peluru tersebut masih aktif selanjutnya diserahkan ke tim jihandak kompi-satu detasemen-c satuan brimob polda jatim di kediri, untuk dimusnahkan.

Menurut kasat reskrim polres kediri, akp sudarto kepada berita Kediri, peluru tersebut berjenis gerun buatan amerika serikat, dibuat sebelum perang dunia kedua. Meskipun usianya puluhan tahun dan terpendam dalam tanah, namun peluru-peluru ini masih aktif dan bisa digunakan.

Seorang bayi lali-laki yang masih lengkap dengan ari-arinya, dibuang di areal kebun tebu, kelurahan ketami kecamatan pesantren kota kediri.

bayi yang di masukan dalam tas plastik ini, pertama kalinya di temukan oleh lima bocah, yang sedang mencari jamur di sekitar sawah. Melihat ada bungkusan dalam tas plastik warna merah itu, mereka kemudian mengambil dan mencoba dibukanya.,

Setelah mereka mengetahui bungkusan tersebut berisi bayi yang masih merah dengan kondisi sudah meninggal, kelimanya merasa ketakutan dan memberitahukan kepada warga kampung.

Menurut ahmad, salah seorang warga setempat, mengatakan, setelah beberapa warga memastikan penemuan mayat bayi, langsung melaporkannya ke mapolsek pesantren.

Saat ini mayat bayi malang tersebut masih berada di kamar mayat r-s-u-d gambir kediri, untuk dilakukan otopsi. Polisi mengamankan dua buah jarik pembungkus bayi yang masih penuh dengan darah. Pelaku pembuang bayi itu kini masih dalam penyelidikan polsek pesantren.

Pulang dari merantau, seorang pemuda berusia 24 tahun, membacok ibu tiri dan ayah kandungnya hingga luka parah dan dirawat di rumah sakit. Kepada polisi, pemuda bernama joko widodo itu mengaku, melakukan perbuatan sadisnya karena emosi.

Joko widodo telah puluhan tahun mengikuti suwarni, ibunya yang bercerai dengan katenan suaminya, merantau ke lowajanan, samarinda, kalimantan timur.

Setelah sepuluh tahun merantau, joko kembali ke desa tales kecamatan ngadiluwih, kabupaten kediri, tempatnya dilahirkan, untuk menjenguk ayah kandung dan kakek-neneknya.